“ABU JANDA: MENGAPA TAK ADA YANG BERANI MENGADILINYA?” Tomy Chandra Sekwil Syarikat Islam Sumatera Barat Pertanyakan Maksud Sebutan “Bar-Bar” untuk Sumbar

“ABU JANDA: MENGAPA TAK ADA YANG BERANI MENGADILINYA?” Tomy Chandra Sekwil Syarikat Islam Sumatera Barat Pertanyakan Maksud Sebutan “Bar-Bar” untuk Sumbar

“ABU JANDA: MENGAPA TAK ADA YANG BERANI MENGADILINYA?”  Tomy Chandra Sekwil Syarikat Islam Sumatera Barat Pertanyakan Maksud Sebutan “Bar-Bar” untuk Sumbar

PUBLIK kembali dibuat geram oleh ulah kontroversial Permadi Arya alias Abu Janda. Sosok yang berkali-kali dilaporkan terkait dugaan ujaran kebencian, penghinaan agama, hingga provokasi SARA itu sampai hari ini masih bebas tampil di layar televisi nasional tanpa tersentuh hukuman berat.

Tomy Chandra, Sekwil Syarikat Islam Sumatera Barat, mempertanyakan keras pernyataan Abu Janda yang pernah melabeli masyarakat Sumbar dengan istilah “bar-bar”. Menurutnya, ucapan itu bukan sekadar opini, tetapi sudah masuk kategori penghinaan terhadap karakter masyarakat Minangkabau dan Sumatera Barat secara umum.

“Kalau masyarakat biasa membuat status sedikit saja langsung diproses hukum, kenapa Abu Janda berkali-kali membuat kegaduhan justru seolah kebal hukum? Apa maksudnya menyebut Sumbar bar-bar? Ini daerah bermartabat, punya adat, punya ulama, punya sejarah besar untuk bangsa ini,” tegas Tomy Chandra.

Nama Abu Janda memang tak pernah jauh dari kontroversi. Dari pernyataan soal “Islam arogan”, tudingan rasisme terhadap Natalius Pigai, hingga debat panas di televisi nasional yang penuh makian kasar, semuanya terus memancing kemarahan publik. Anehnya, setiap kasus besar yang menyeret namanya selalu berakhir tanpa hukuman yang benar-benar membuat jera.

Puncaknya terjadi saat acara Rakyat Bersuara di iNews TV pada Maret 2026. Abu Janda ngamuk di depan publik nasional, melontarkan kata-kata kasar kepada sejumlah narasumber hingga suasana ricuh dan memalukan. Tayangan itu bahkan menuai kecaman luas karena dianggap tidak mendidik dan memperkeruh suasana bangsa.

Kini masyarakat mulai bertanya-tanya: apakah hukum di negeri ini benar-benar tajam ke bawah namun tumpul ke atas? Mengapa figur kontroversial seperti Abu Janda terus mendapat ruang meski berulang kali memantik konflik sosial dan kemarahan publik?

Tomy Chandra menilai negara tidak boleh membiarkan standar ganda penegakan hukum terus terjadi. Kebebasan berpendapat, katanya, bukan tiket untuk menghina kelompok masyarakat, agama, ataupun daerah tertentu.

“Kalau ada warga Sumbar bicara keras sedikit langsung dicap intoleran. Tapi ketika Sumbar dihina, kenapa semua diam? Ini yang melukai rasa keadilan masyarakat,” ujarnya.

Pernyataan Abu Janda kembali membuka luka lama tentang bagaimana media sosial dan televisi nasional dipenuhi figur-figur kontroversial yang hidup dari kegaduhan. Publik kini menunggu: apakah aparat akan bertindak tegas, atau kasus ini kembali menguap seperti sebelumnya?