Tak Pernah Absen di Tengah Masyarakat, Ibu Nita Aziz Turun langsung ke Sintoga Bawa Aksi Nyata—Saat Padang Pariaman Darurat Sampah
Tak Pernah Absen di Tengah Masyarakat, Ibu Nita Aziz Turun langsung ke Sintoga Bawa Aksi Nyata—Saat Padang Pariaman Darurat Sampah
Padang Pariaman 14/4/2026 Di tengah kondisi sampah yang kian menggunung dan mulai mengkhawatirkan di berbagai wilayah, Kabupaten Padang Pariaman kini dihadapkan pada situasi yang tak bisa lagi dianggap biasa. Status darurat sampah bukan lagi isu, melainkan kenyataan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Di saat banyak pihak masih berkutat pada wacana, Ibu Nita Aziz—istri Bupati Padang Pariaman—kembali menunjukkan langkah berbeda. Ia dikenal sebagai sosok yang selalu hadir di tengah masyarakat, dan hari ini membuktikannya dengan turun langsung ke rumah pengelola BSF (maggot) KPP di Kecamatan Sintoga.
Kunjungan ini bukan sekadar formalitas. Di lokasi, Ibu Nita melihat langsung bagaimana pengolahan sampah organik dilakukan melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), yang dikenal sebagai “mesin alami” pengurai sampah yang mampu bekerja cepat dan efisien.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Camat Sintoga beserta jajaran, serta Ketua Karang Taruna Sintoga, Bapak Marlan. Kehadiran berbagai unsur ini menjadi sinyal bahwa persoalan sampah sudah berada pada titik serius dan membutuhkan kolaborasi nyata.
Namun yang paling menyita perhatian, Ibu Nita Aziz tidak datang dengan tangan kosong.
Ia membawa langsung bantuan berupa gerobak, sekop, serokan, serta berbagai perlengkapan pendukung lainnya guna memperkuat aktivitas pengolahan sampah di lokasi tersebut. Langkah ini langsung mendapat respons positif dari masyarakat yang hadir.
“Bajalan babuah batih, malenggang babuah tangan,” ujar salah seorang pemuda, menyindir halus kebiasaan kunjungan tanpa hasil yang selama ini kerap terjadi.
Dalam kesempatan itu, Ibu Nita pun sangat mensupport program BSF ini dan mendorong agar gerakan peduli sampah terus diperluas. Ia menegaskan bahwa kondisi saat ini sudah tidak bisa ditunda lagi.
“Ini bukan lagi persoalan kecil. Padang Pariaman sudah darurat sampah. Program seperti ini harus kita dukung dan kembangkan bersama,” tegasnya.
Selain menjadi solusi lingkungan, budidaya maggot juga memiliki nilai ekonomi karena dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, membuka peluang tambahan penghasilan bagi masyarakat.

Namun di balik aksi nyata tersebut, muncul pertanyaan besar yang kini mulai bergema di tengah publik: apakah gerakan ini hanya akan berhenti di Kecamatan Sintuk, atau benar-benar akan menjalar ke seluruh kecamatan yg ada di Kabupaten Padang Pariaman?
Jika program ini terbukti efektif, maka seharusnya tidak ada alasan untuk berhenti di satu titik. Justru di sinilah ujian keseriusan semua pihak—apakah ini akan menjadi gerakan masif penyelamat lingkungan, atau sekadar langkah sesaat yang perlahan dilupakan.
Masyarakat kini menunggu, bukan lagi sekadar janji, tetapi keberlanjutan aksi nyata.
Karena pada akhirnya, persoalan sampah tidak akan selesai dengan kata-kata—hanya dengan tindakan. Dan hari ini, Sintoga telah memulai. Tinggal menunggu, siapa yang benar-benar ikut bergerak.Kpktipikornewsindo


Komentar via Facebook