Mengenang Zainal Bakar: Gubernur Visioner di Balik Kelok 9 dan Bandara Internasional Minangkabau
Mengenang Zainal Bakar: Gubernur Visioner di Balik Kelok 9 dan Bandara Internasional Minangkabau
Mengenang Zainal Bakar
PADANG PARIAMAN – Nama H. Zainal Bakar tetap melekat kuat dalam sejarah pembangunan Sumatera Barat. Sosok birokrat senior kelahiran Pariaman ini dikenang sebagai pemimpin visioner yang meletakkan fondasi bagi dua ikon infrastruktur terbesar Ranah Minang, yakni Kelok 9 dan Bandara Internasional Minangkabau.
Lahir pada 16 Agustus 1940 di Pariaman, Zainal Bakar bukan hanya seorang administrator pemerintahan, tetapi juga arsitek perubahan yang berpikir jauh ke depan. Ia menjabat sebagai Gubernur Sumatera Barat pada periode 24 Februari 2000 hingga 14 Maret 2005, masa yang menjadi tonggak penting modernisasi infrastruktur daerah.
Zainal Bakar merupakan contoh nyata pamong murni yang meniti karier birokrasi dari bawah. Setelah lulus dari Universitas Andalas pada 1967, ia memulai pengabdian sebagai PNS golongan III-A.
Kariernya terus menanjak melalui berbagai posisi penting, mulai dari Sekwilda Agam, Kepala Biro Humas, Kepala Biro Pembangunan Daerah, hingga dipercaya menjadi Bupati Padang Pariaman pada 1990–1993 sebelum akhirnya memimpin Sumatera Barat sebagai gubernur.
Pengalaman panjang di birokrasi membuat setiap kebijakan yang diambilnya memiliki arah yang jelas, terukur, dan berdampak jangka panjang.
Salah satu legasi terbesar Zainal Bakar adalah dimulainya pembangunan Jalan Layang Kelok 9, jalur vital yang menghubungkan Sumatera Barat dengan Riau.
Pada awal 2000-an, jalur tersebut dikenal sempit dan kerap menjadi titik kemacetan utama bagi kendaraan logistik dan transportasi antardaerah. Di bawah kepemimpinannya, gagasan pembangunan flyover modern mulai digulirkan sebagai solusi strategis.
Pembangunan resmi dimulai pada November 2003, setelah mendapat persetujuan pemerintah pusat. Kini, Kelok 9 tidak hanya menjadi jalur transportasi penting, tetapi juga salah satu ikon wisata jalan raya terindah di Indonesia.
Tak hanya fokus pada jalur darat, Zainal Bakar juga memiliki visi besar di sektor transportasi udara.
Ia melihat bahwa Bandara Tabing sudah tidak lagi mampu menampung pertumbuhan penumpang dan kebutuhan mobilitas Sumatera Barat. Karena itu, ia mendorong percepatan pembangunan Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Ketaping, Padang Pariaman.
Keputusan strategis ini kemudian menjadi salah satu tonggak terbesar pembangunan Sumbar. BIM resmi beroperasi pada Agustus 2005 dan hingga kini menjadi pintu gerbang utama wisata, investasi, serta mobilitas masyarakat dari dan ke Ranah Minang.
Zainal Bakar wafat pada 31 Juli 2012 setelah berjuang melawan sakit yang dideritanya sejak 2006. Ia dimakamkan di Sungai Sirah, Nagari Pilubang, Padang Pariaman.
Namun jasa dan warisannya tetap hidup.
Setiap kendaraan yang melintas mulus di Kelok 9, dan setiap pesawat yang mendarat di BIM, menjadi saksi bisu dedikasi seorang pemimpin yang membangun bukan hanya untuk masanya, tetapi untuk generasi mendatang.
Zainal Bakar telah membuktikan bahwa kepemimpinan visioner akan selalu meninggalkan jejak yang abadi dalam sejarah daerah.


Komentar via Facebook