Gedung UMKM di Tanjung Kalian Terbengkalai

Gedung UMKM di Tanjung Kalian Terbengkalai

Gedung UMKM di Tanjung Kalian Terbengkalai

Gedung UMKM di Tanjung Kalian Terbengkalai: Investasi Ratusan Juta Rupiah Diduga Tak Berfungsi Optimal

 

Bangka Barat – Di sepanjang kawasan Jalan Tanjung Kalian yang dikenal sebagai salah satu titik bersejarah dan ramai dikunjungi wisatawan lokal, berdiri sebuah bangunan yang justru menyisakan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Gedung UMKM yang dibangun dengan anggaran yang diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah itu hingga kini tampak terbengkalai dan tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya.

Penulis : Bambang Priyanto,dan Tim

Bangunan yang disebut-sebut dibangun pada masa pemerintahan sebelumnya itu kini hanya berdiri sunyi tanpa aktivitas ekonomi yang berarti. Alih-alih menjadi pusat pemberdayaan pelaku usaha kecil dan menengah, gedung tersebut justru lebih sering terlihat kosong dan tidak terawat.

 

Pagi itu, penulis menyusuri kawasan tersebut dan menemukan kondisi gedung yang memprihatinkan. Cat yang mulai pudar, area sekitar yang minim aktivitas, serta tidak adanya kegiatan UMKM yang berjalan, semakin memperkuat kesan bahwa fasilitas tersebut belum berfungsi sesuai tujuan awal pembangunannya.

 

Salah satu warga setempat yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa sejak awal berdiri, gedung tersebut jarang difungsikan secara maksimal. Bahkan menurutnya, bangunan itu lebih sering digunakan sekadar tempat berteduh sementara bagi para buruh pelabuhan ketika hujan turun.

 

“Dari dulu sampai sekarang tidak pernah benar-benar hidup. Paling cuma dipakai kalau hujan saja,” ungkapnya.

 

Kondisi ini menimbulkan kekecewaan tersirat di tengah masyarakat. Mereka menilai bahwa pembangunan fasilitas publik seharusnya diiringi dengan perencanaan pemanfaatan yang jelas, sehingga anggaran yang telah dikeluarkan tidak berakhir menjadi beban aset tak produktif.

 

Masyarakat Bangka Barat berharap pemerintah daerah dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap keberadaan gedung tersebut. Jika memang diperuntukkan bagi pengembangan UMKM, maka perlu ada langkah konkret agar bangunan itu kembali difungsikan, bukan sekadar menjadi simbol proyek yang tidak berjalan optimal.

 

Di tengah kebutuhan masyarakat akan ruang usaha dan pemberdayaan ekonomi lokal, keberadaan gedung yang tidak dimanfaatkan ini menjadi ironi tersendiri. Harapannya sederhana: agar setiap rupiah dari anggaran publik benar-benar kembali kepada masyarakat dalam bentuk manfaat yang nyata, bukan sekadar bangunan yang sunyi tanpa fungsi.