Penertiban Berulang Tanpa Hasil: Negara Kehilangan Wibawa di Laut Bangka Barat”

Penertiban Berulang Tanpa Hasil: Negara Kehilangan Wibawa di Laut Bangka Barat”

Penertiban Berulang Tanpa Hasil: Negara Kehilangan Wibawa di Laut Bangka Barat”

“Penertiban Berulang Tanpa Hasil: Negara Kehilangan Wibawa di Laut Bangka Barat”

 

Bangka Barat – Aktivitas tambang timah ilegal jenis ponton selam di perairan Tembelok–Keranggan kembali menjadi sorotan tajam. Meski sudah berulang kali dilakukan penertiban oleh aparat penegak hukum, termasuk patroli Satpolairud Polres Bangka Barat, aktivitas tambang yang diduga ilegal tersebut tetap berlangsung, bahkan diduga semakin berani beroperasi pada malam hari.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius dari masyarakat: sampai kapan penertiban hanya menjadi rutinitas tanpa efek jera?

 

Di lapangan, masyarakat nelayan menilai situasi sudah melewati batas kewajaran. Aktivitas ponton yang terus muncul meski sudah ada tindakan pembongkaran, penangkapan, hingga pemasangan spanduk larangan, dianggap sebagai bukti lemahnya pengawasan berkelanjutan di wilayah perairan tersebut.

 

Sejumlah nelayan menyebut, laut yang selama ini menjadi ruang hidup mereka kini semakin tertekan. Jalur tangkap ikan terganggu, hasil tangkapan menurun, dan kerusakan lingkungan laut semakin sulit dihindari akibat aktivitas pengerukan yang diduga berlangsung tanpa kendali.

 

“Setiap ditertibkan berhenti sebentar, tapi setelah itu jalan lagi. Seperti tidak ada takutnya sama sekali,” ungkap salah satu nelayan dengan nada kecewa.

 

Situasi ini membuat tingkat keresahan masyarakat pesisir meningkat. Mereka menilai kehadiran negara di wilayah laut seolah belum sepenuhnya mampu memberikan perlindungan yang nyata terhadap ruang hidup nelayan tradisional.

 

Dalam beberapa kejadian di lapangan, nelayan dan masyarakat disebut mulai mengambil langkah sendiri dengan menghentikan aktivitas ponton yang masih beroperasi pada malam hari. Tindakan tersebut terjadi di tengah situasi emosional akibat akumulasi kekecewaan terhadap aktivitas tambang yang tak kunjung berhenti.

 

Meski demikian, kondisi ini justru menunjukkan adanya potensi eskalasi konflik apabila tidak segera direspons secara serius oleh pihak berwenang. Ketika masyarakat mulai turun langsung di lapangan, batas antara keresahan dan benturan sosial menjadi semakin tipis.

 

Tokoh masyarakat menilai, persoalan ini tidak bisa lagi diselesaikan dengan pola penertiban sesaat. Diperlukan langkah yang lebih tegas, terukur, dan berkelanjutan dari pemerintah daerah, aparat penegak hukum, serta instansi terkait untuk benar-benar mengosongkan wilayah Tembelok–Keranggan dari ponton ponton yang parkir dan mencuri curi waktu beraktivitas.ketika pengawasan lengah mereka melakukan aktivitas, saat ini malam hari mereka kerap beraktivitas.

 

“Ini sudah berulang terlalu sering. Kalau tidak ada tindakan yang benar-benar tegas dan permanen, wibawa penegakan hukum di laut akan terus dipertanyakan,” tegas salah satu tokoh masyarakat setempat.

 

Masyarakat kini mendesak agar pemerintah tidak hanya hadir saat terjadi penertiban, tetapi memastikan pengawasan berjalan konsisten. Mereka menuntut adanya kepastian bahwa wilayah perairan tersebut benar-benar steril dari aktivitas penambangan ilegal, bukan sekadar bersih sementara waktu setelah operasi aparat.

 

Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa penyelesaian yang tegas, masyarakat khawatir konflik horizontal di lapangan tidak dapat dihindari. Pada titik ini, publik menilai bahwa yang dipertaruhkan bukan hanya sumber daya alam, tetapi juga wibawa negara dalam menegakkan aturan di wilayahnya sendiri.